Hampir semua hotel dan villa di Bali menjual lewat OTA: Booking.com, Agoda, Expedia, Traveloka, tiket.com, Airbnb. Jangkauan mereka tidak mungkin Anda tandingi sendiri. Mereka beriklan di mana-mana dan tamunya datang dari seluruh dunia.
Tapi OTA tidak gratis. Komisinya umumnya belasan sampai dua puluhan persen dari nilai booking, tergantung platform, kontrak, dan program yang Anda ikuti. Jadi pertanyaannya bukan "perlu OTA atau tidak", tapi bagaimana memaksimalkan OTA supaya komisinya sepadan. Artikel ini membahas lima langkahnya.
1. Hitung pendapatan bersih per kanal, bukan jumlah booking
Laporan yang hanya menghitung jumlah booking per kanal menyesatkan. Yang penting adalah uang yang benar-benar masuk setelah komisi, diskon, dan biaya pembayaran.
Contoh hitungan sederhana: satu kamar dijual Rp1.000.000 per malam. Lewat OTA dengan komisi 18%, Anda menerima Rp820.000. Kalau di kanal yang sama Anda juga ikut promo diskon 10%, harga jualnya Rp900.000 dan Anda menerima Rp738.000. Selisihnya dengan booking langsung di website sendiri bisa lebih dari seperempat harga kamar.
Hitung ini per kanal setiap bulan. Hasilnya sering mengejutkan: kanal yang paling ramai belum tentu yang paling menguntungkan.
2. Rapikan fondasinya dulu
- Konten yang lengkap dan jujur. Foto berkualitas, deskripsi yang menjawab "kenapa menginap di sini", dan kebijakan yang jelas. Panduan detailnya ada di artikel optimasi listing OTA.
- Nama tipe kamar yang sama di semua kanal, termasuk website Anda. Tamu sering membandingkan, dan nama yang berbeda-beda membuat mereka ragu apakah itu kamar yang sama.
- Rate plan yang sederhana. Dua sampai empat pilihan yang jelas, misalnya kamar saja, dengan sarapan, bayar di muka, dan menginap panjang. Terlalu banyak pilihan justru membuat tamu bingung dan menunda.
3. Atur campuran kanal dengan sengaja
Terdaftar di banyak OTA menambah jangkauan. Tapi setiap kanal tambahan juga menambah pekerjaan dan risiko kalender tidak sinkron. Lihat dari mana tamu Anda sebenarnya datang:
- Tamu mancanegara banyak memesan lewat Booking.com, Expedia, dan Airbnb.
- Tamu Asia banyak lewat Agoda dan Trip.com.
- Tamu domestik banyak lewat Traveloka dan tiket.com, terutama saat libur panjang.
Dari situ tentukan kanal mana yang dijaga paling serius. Yang lain tetap dibuka, tapi tidak menyedot waktu yang sama besar. Jangan juga bergantung pada satu OTA saja. Satu perubahan algoritma bisa mengosongkan kalender Anda.
4. Pakai OTA sebagai etalase, arahkan tamu ke direct booking
Banyak tamu menemukan properti di OTA, lalu mencari namanya di Google sebelum memesan. Ini peluang. Pastikan yang mereka temukan adalah:
- Website yang cepat di HP dan bisa langsung menerima pemesanan.
- Google Business Profile yang lengkap, dengan foto dan ulasan terbaru.
- Alasan untuk memesan langsung yang tidak melanggar kontrak harga. Contohnya bukan harga yang lebih murah, tapi nilai tambah: sarapan, antar-jemput bandara, late check-out, atau fleksibilitas tanggal.
Setiap tamu yang kembali lewat booking langsung adalah komisi yang tidak perlu dibayar lagi. Baca juga cara meningkatkan direct booking hotel lewat media sosial.
5. Kelola OTA secara aktif, bukan pasang lalu tinggal
- Pantau pickup. Seberapa cepat tanggal-tanggal ke depan terisi dibanding tahun lalu. Kalau melambat, ubah harga atau promo sekarang, jangan menunggu bulannya lewat.
- Sesuaikan harga dengan musim dan event. High season Juli–Agustus dan akhir tahun, libur panjang domestik, dan event lokal di area Anda.
- Balas ulasan dalam satu-dua hari, dengan bahasa yang tulus dan fokus ke solusi.
- Jaga hubungan dengan market manager OTA. Sampaikan target Anda dan minta masukan mereka. Mereka melihat data area yang tidak Anda lihat.
Ringkasnya: OTA adalah alat pemasaran yang mahal tapi efektif. Maksimalkan dengan menghitung pendapatan bersih per kanal, merapikan listing, memilih kanal dengan sengaja, dan mengubah sebagian tamu OTA menjadi tamu langsung di kunjungan berikutnya.
Kalau semua ini terasa seperti pekerjaan satu orang penuh, memang begitu. Anda bisa mengerjakannya sendiri, merekrut staf, atau memakai jasa OTA manager. Perbandingan ketiganya ada di artikel kelola OTA sendiri atau pakai jasa.
